Makalah Teori Portofolio dan Analisis Investasi Analisis Fundamental Lengkap

MAKALAH

TEORI PORTOFOLIO DAN ANALISIS INVESTASI

ANALYSIS FUNDAMENTAL

 

KATA  PENGANTAR



Penulis megucapkan segala puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan segenap kekuatan dan kesanggupan, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah tentang Analysis Fundamental dalam rangka Melengkapi Tugas Mata Kuliah Teori Portofolio dan Analisis Investasi.

Dalam penulisan makalah ini, penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada dosen mata kuliah Teori Portofolio dan Analisis Informasi dan teman-teman yang telah membantu dan mendukung sehingga makalah ini dapat diselesaikan.

Penulis menyadari makalah ini tidak luput dari berbagai kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik demi kesempurnaan dan perbaikan makalah ini. Atas perhatiannya, penulis ucapkan terima kasih.


                                                                           Padang, 1 November 2016

                                                                                                       Penulis,




     Kelompok






DAFTAR ISI


HALAMAN COVER

KATA PENGANTAR............................................................................................. ii

DAFTAR ISI.......................................................................................................... iii


BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang................................................................................................... 1

1.2 Identifikasi Masalah........................................................................................... 2

1.3 Rumusan Masalah.............................................................................................. 2

1.4 Tujuan Penulisan............................................................................................... 3

1.5 Manfaat Penulisan............................................................................................. 3


BAB II PEMBAHASAN

2.1 Analysis Fundamental....................................................................................... 4    

2.2 Analyasis Ekonomi............................................................................................ 4

     2.2.1 Kondisi Ekonomi Dan Pasar Modal.......................................................... 5

     2.2.2 Variabel Makro Ekonomi.......................................................................... 6

     2.2.3 Meramalkan Perubahan pasar modal......................................................... 8

2.3 Analysis Industri.............................................................................................. 10

    2.3.1 Pengertian Industri.................................................................................... 10

    2.3.2 Pentingnya analisis industry..................................................................... 12

    2.3.3 Estimasi tingkat Keuntungan Industri...................................................... 12

    2.3.4 Estimasi Earning per Share industry......................................................... 13

    2.3.5 Persaingan Dan Rreturn Industri Yang Diharapkan................................. 13

    2.3.6 Estimasi Earning Multiplier Industri........................................................ 15

2.4 Analysis Perusahaan........................................................................................ 17

   2.4.1 EPS dan informasi laporan keuangan........................................................ 19

   2.4.2 Kelemahan Pelaporan EPS dalam laporan Keuangan............................... 20

   2.4.3 Analysis rasio profitabilitas perusahaan.................................................... 21

   2.4.4 Price earning ratio...................................................................................... 22

   2.4.5 Estimasi Nilai  Intrisik saham.................................................................... 24

   2.4.6 Analysis perusahaan menggunakan Ringkasan laporan keuangan........... 24


BAB III PENTUP

3.1 Kesimpulan...................................................................................................... 26

3.2 Saran................................................................................................................ 26

DAFTAR PUSTAKA


BAB I

PENDAHULUAN


1.1         Latar Belakang

Dalam  melakukan  investasi,  seorang  investor  harus  memiliki  alat  untuk meneliti, menganalisis, dan menyeleksi saham yang akan dibeli. Sehubungan dengan hal tersebut, investor harus mempertimbangkan resiko yang dihadapi dan  keuntungan yang diharapkan. Resiko dapat timbul karena adanya ketidakpastian pada masa yang akandatang

Dengan mempertimbangkan resiko tersebut, diharapkan investor mendapat tingkat keuntungan yang cukup. Upaya untuk dapat memperoleh tingkat keuntungan yang menarik, investor dapat menginvestasikan dananya pada beberapa kelompok saham, dengan harapan jika investasi pada saham tertentutidak dapat memperoleh tingkat  keuntungan  seperti  yang  diharapkan,  investor  masih  mempunyai  harapan untuk mendapatkan tingkat keuntungan dari saham-saham yang lain. Cara-cara seperti ini dinamakan investasi dalam portofolio. Yang penting untuk dilakukan oleh investor dalam menentukan saham mana yang akan dimasukkan dalam portofolio memerlukan keahlian  dalam  memilih  saham-saham  yang  sekiranya  nanti  dapat  mendatangkan tingkat keuntungan yang optimal.

Ada dua cara yang dapat digunakan untuk menganalisis saham, yaitu dengan menggunakan analisis fundamental dan  analisis  teknikal.  Analisis  fundamental  digunakan  untuk  menganalisis saham berdasarkan kemampuan perusahaan, yang meliputi sistem manajemen organisasi, jenis usaha, dan situasi keuangan perusahaan. Analisis ini terutama menyangkut masalah kebijakan perusahaan. Alat analisis fundamental yang sering digunakan adalah dengan menghitung  PER (Price Earning Ratio), ROI (Return On Investment), ROE (Return On Equity), PBV (Price Book Value), dan EPS (Earning Per Share). Analisis fundamental dimaksudkan untuk menjawabapakah harga suatu saham itu murah atau mahal. Jika harga saham murah maka investor dapat mengambil keputusan untuk membeli saham tersebut. Berikut akan dibahas Analysis fundamental yang meliputi analysis Ekonomi, Industri, Perusahaan.


1.2         Identifikasi Masalah

Di dalam makalah ini yang akan dibahas yaitu :

1.      Pengertian Analysis fundamental dan Kegunaanya?

2.      Penjelasan Analysis Ekonomi dan kegunaanya dalam pengambilan keputusan portofolio.

3.      Cara melakukan Analysis Ekonomi.

4.      Penjelasan Analysis Industri dan kegunaanya dalam pengambilan keputusan portofolio.

5.      Penjelasan Analysis Perusahaan dan kegunaanya dalam pengambilan keputusan portofolio.

6.      Cara melakukan Analysis Perusahaan.


1.3         Rumusan Masalah

Adapun yang menjadi fokus permasalahan yang akan dibahas dimaklaah ini  dapat dirumuskan sebagai berikut :

1.      Apa itu Analysis Fundamental ?

2.      Apa Apa saja yang dilakukan dalam analysis Fundamental?

3.      Apa itu Analysis Ekonomi dan Bagaimana caranya?

4.      Apa Analysis Industri dan bagamana caranya?

5.      Apa itu Analysis perusahaan dan bagamana caranya?


1.4         Tujuan Penulisan

Tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut :

1.      Untuk memahami apa itu Analysis Fundamental?

2.      Untuk memahami langkah-langkah dalam analysis Fundamental?

3.      Untuk mengetahui apa itu Anlysis Ekonomi dalam analysis Fundamental?

4.      Untuk mengetahui cara menganalysis ekonomi ?

5.      Untuk mengetahui apa itu Anlysis industri dalam analysis Fundamental?

6.      Untuk mengetahui cara menganalysis industri ?

7.      Untuk mengetahui apa itu Anlysis perusahaan dalam analysis Fundamental?

8.      Untuk mengetahui cara menganalysis perusahaan ?


1.5         Manfaat Penulisan

Pembuatan makalah ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi berbagai pihak.Terutama bagi penulis untuk menambah pengetahuan dan pengalaman penulis untuk mengetahui akhlak,juga  bagi pembaca agar dapat menambah dan memperluas wawasannya serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari yang mampu menambah iman para pembaca.




BAB II

PEMBAHASAN



2.1  PENGERTIAN ANALYSIS FUNDAMENTAL

Analisis fundamental adalah metode dalam melakukan analisis informasi,melakukan proyeksi dari informasi tersebut guna menghasilkan penilaian yangtepat bagi perusahaan . Salah satu bentuk analisis fundamental adalah melalui pendekatan Top Down Analysis. Dalampendekatan ini biasanya digunakan tiga pendekatan (Daves,2004), yaitu :

1.      Mendalamidan mengertikondisi lingkunganekonomiyang berkaitan dengan perusahaan yang akan dinilai.

2.      Menyelidiki potensi perkembangan pada industri yang berkaitan denganperusahaan.

3.      Menyelidiki perusahaan yang akan dinilai, meliputi strategi kopetensi utama, manajemen, aturan dan faktor relevan lainnya.


2.2    ANALISIS EKONOMI

Membahas pendekatan dalam analisis sekuritas di pasar modal melalui top-down approach, yaitu analisis terhadap berbagai variabel ekonomi makro dalam melakukan analisis penilaian saham dan membuat keputusan alokasi investasi. Analysis Ekonomi akan memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai:

1.      Tahap pertama dalam Pendekatan top-down yakni analisis ekonomi dalam kaitannya dengan pemilihan sekuritas.

2.      Mengidentifikasi variabel-variabel makro yang mempengaruhi kinerja atau return suatu sekuritas.

3.      Prakiraan perubahan pasar modal.

Dalam melakukan analisis penilaian saham, investor bisa melakukan analisis fundamental secara “top-down” untuk menilai prospek perusahaan.

Analisis secara “top-down” meliputi:

1.      Analisis variabel-variabel ekonomi makro yang mempengaruhi kinerja seluruh perusahaan.

2.      Analisis industri-industri pilihan yang berprospek paling baik.

3.      Analisis perusahaan dan penentuan saham perusahaan mana yang terbaik.



2.2.1 Kondisi Ekonomi Dan Pasar Modal

Analisis ekonomi adalah saha satu dari tiga analysis yang perlu dilakukan investor dalam penentuan keputusan investasinya. Mengapa penting? Karena:

1.      Karena adanya kecenderungan hubungan yang kuat antara apa yang terjadi pada lingkungan ekonomi makro dan kinerja suatu pasar modal.

2.      Pasar modal mencerminkan apa yang terjadi pada  perekonomian makro.

3.      Fluktuasi yang terjadi di pasar modal akan terkait dengan perubahan yang terjadi pada berbagai variabel ekonomi makro.


Siegel (1991), menyimpulkan adanya hubungan yang kuat antara harga saham dan kinerja ekonomi makro, dan menemukan bahwa perubahan pada harga saham selalu terjadi sebelum terjadinya perubahan ekonomi. Mengapa perubahan harga saham mendahului perubahan ekonomi, mengapa bukan sebaliknya? Ada dua alas an yang mendasarinya.

1.      Harga saham yang terbentuk merupakan cerminan ekspektasi investor terhadap earning, dividen, maupun tingkat bunga yang akan terjadi.

2.      Kinerja pasar modal bereaksi terhadap perubaha ekonomi makro seperti perubahan tingkat bunga, inflasi, ataupun jumlah uang beredar.


2.2.2 Variabel Makro Ekonomi

            Lingknngan  ekonomi makro adalah lingkungan yang mempengaruhi operasi perusahaan sehari-hari. Kemampuan investor dalam memahami dan meramalkan kondisi ekonomi makro di massa dating akan sangat berguna dalam pembuatan keputusan investasi yang menguntungkan sehingga investor harus memperhatikan beberapa indkator ekonomi makro yang bisa membantu mereka dalam memahami dan meramalkan kondisi ekonomi makro. Berikut ini akan dibahas beberapa variable ekonomi makro yang perlu di perhatikan investor.

Produk Domestik Bruto (PDB) / Gross Domestic Product (GDP).  Menunjukkan jumlah agregat barang dan jasa yang dihasilkan oleh ekonomi nasional pada satu periode tertentu, PDB terbagi dua, yaitu PDB riil dan PDB nominal. Perbedaannya terletak pada faktor inflasi. PBD nominal mengukur pertambahan barang dan jasa yang dihasilkan ekonomi nasional dan efek dari kenaikan harga barang (efek inflasi). Sementara PDB riil tidak mengikutsertakan

Inflasi perlu diperhitungkan karena berkaitan erat dengan nilai waktu dari uang. Secara sederhana, inflasi dapat diartikan sebagai kenaikan harga barangbarang secara umum atau penurunan daya beli dari sebuah satuan mata uang .Pada dasarnya, inflasi dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu inflasi karena kenaikan biaya produksi dan inflasi karena hokum permintaaan Dan penawaran. Adanya inflasi menyebabkan tingkat pengembalian yang diharapkan dari suatu investasi atau yang biasa disebut Rate of return meningkat dan cost of equity juga meningkat. Peningkatan ini dapat merubah WACC yang berpengaruh terhadap penghitungan nilai intrinsik  perusahaan. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa inflasi berpengaruh terhadap penilaian perusahaan karena inflasi dapat  meningkatkan WACC perusahaan.

Tingkat bunga, Tingkat bunga adalah ukuran keuntungan investasi yang dapat diperoleh investor, atau dengan sudut pandang lain, adalah biaya modal yang harus dikompensasi atas suatu investasi. Penurunan suku bunga akan mendorong orang untuk melakukan investasi dan konsumsi. Suku bunga bank sentral menjadi alat  yang popular digunakan dalam mengatur perekonomian.

Nilai tukar rupiah, nilai tukar rupiah juga merupakan indikator dari aktivitas kebijkan  ekonomi moneter. Bank Indonesia melakukan open market operation dan reserve requirement untuk mengatur sektor moneter, khususnya inflasi dan nilai tukarrupiah. Selain itu juga nilai tukar rupiah merupakan hasil antara Supply dan Demand dipasar atas rupiah dan mata uang asing lainnya Inflasi.

 Anggaran deficit, Investasi swasta serta Neraca perdagangan dan pembayaran.


Matriks Hubungan Faktor Makro Ekonomi Terhadap Profitabilitas

INDIKATOR EKONOMI
   

PENGARUH
   

PENJELASAN

Tingkat Bunga
   

Tingkat bunga yang tinggi merupakan sinyal negatif terhadap harga saham.
   

Tingkat suku bunga yang meningkat akan menyebabkan peningkatan suku bunga yang disyaratkan atas investasi pada suatu saham. Tingkat suku bunga yang meningkat bisa juga menyebabkan investor menarik investasinya pada saham dan memindahkannya pada investasi berupa tabungan ataupun deposito.

Kurs Rupiah
   

Menguatnya kurs rupiah terhadap mata uang asing merupakan sinyal positif  bagi perekonomian yang mengalami inflasi
   

Menguatnya kurs rupiah terhadap mata uang asing akan menurunkan biaya impor bahan untuk produksi, dan akan menurunkan tingkat suku bunga yang berlaku.

Anggaran Defisit
   

Anggaran yang defisit merupakan sinyal positif bagi ekonomi yang sedang mengalami resesi, tetapi merupakan sinyal yang negatif bagi ekonomi yang mengalami inflasi.
   

Anggaran defisit akan mendorong konsumsi dan investasi pemerintah, sehingga dapat meningkatkan permintaan terhadap produk perusahaan. Akan tetapi, anggaran defisit di sisi lain justru akan meningkatkan jumlah uang beredar dan akibatnya akan mendorong inflasi.

Investasi Swasta
   

Menigkatnya investasi swasta adalah sinyal positif bagi pemodal.
   

Meningkatnya investasi swasta akan meningkatkan PDB sehingga dapat meningkatkan pendapatan konsumen.

Neraca Perdagangan dan Pembayaran
   

Defisit neraca perdagangan dan pembayaran merupakan sinyal negatif bagi pemodal.
   

Defisit neraca perdagangan dan pembayaran harus dibiayai dengan menarik modal asing. Untuk melakukan hal ini, suku bunga harus dinaikkan.


Sumber:  Dikutip dari Harianto, F. dkk., 1998, “Perangkat dan Teknik Analisis Investasi di Pasar Modal Indonesia”, PT. Bursa Efek Jakarta, Jakarta, hal. 158.


2.2.3 Meramalkan Perubahan Pasar Modal

Untuk membuat keputusan investasi, kemampuan untuk mengetahui perubahan apa yang sedang terjadi di pasar modal belumlah cukup bagi investor. Investor memerlukan kemampuan untuk ‘meramalkan’ apa yang mungkin terjadi di kemudian hari pada pasar modal, dan apa kira-kira dampaknya bagi keputusan investasi yang akan diambil.

Kompleksitas  proses prakiraan perubahan pasar modal secara konsisten. Pertama, adanya konsep pasar modal yang efisien berarti bahwa tidak mungkin bagi kita untuk meramalkan perubahan pasar modal dan mengambil keuntungan dari perubahan tersebut. Kedua, peramalan perubahan pasar modal yang akan terjadi di masa datang biasanya didasari atas data-data perubahan masa lalu yang tersedia.

Siklis ekonomi diramalkan membaik, maka harga saham menjelang titik balik siklis ekonomi (sebelum mencapai titik terendah) akan membaik mendahului membaiknya siklis ekonomi. Siklis ekonomi yang terus membaik sampai mendekati titik puncak, maka harga saham cenderung stabil sehingga return saham yang abnormal sulit dicapai investor. Implikasinya Investor harus bisa meramalkan kapan siklis ekonomi akan mencapai titik baliknya (baik titik puncak maupun titik terendah), sehingga investor bisa membuat keputusan tentang harga saham yang tepat, serta tindakan apa yang sebaiknya dilakukan investor terhadap saham tersebut.

Perubahan Variabel-Variabel Ekonomi Makro. Pengamatan terhadap perubahan  indikator ekonomi makro seperti PDB, inflasi, tingkat bunga ataupun nilai tukar mata uang, dapat membantu investor dalam meramalkan apa yang akan terjadi pada perubahan pasar modal. Misalnya, variable tingkat bunga bisa dipakai dalam meramalkan  harga saham atau obligasi yang akan terjadi pada perubahan pasar modal. Misalnya, variable tingkat bunga bisa dipakai dalam meramalkan harga saham ataupun obligasi yang akan terjadi. Jika investor meramalkan tingkat suku bunga akan meningkat, maka tentunya investor akan bisa memoerkirakan bahwa harga obligasi maupun harga saham akan cendrung menururn. Kemampuan utuk meramalkan perubahan variable-variabel ekonomi makro tentunya akan sangat membantu investor dalam  membuat keputusan investasi yang tepat dan menguntungkan.


2.3  ANALISIS INDUSTRI

2.3.1Pengertian Industri

Analisis industri merupakan salah satu bagian dalam analisis fundamental. Analisis industri biasanya dilakukan setelah kita melakukan analisis ekonomi.

Dalam analisis industri, investor mencoba membandingkan kinerja dari berbagai industri untuk  mengetahui jenis industri apa saja yang memberikan prospek paling menjanjikan ataupun sebaliknya.

Masalah pengelompokan industri menjadi semakin rumit ketika berhadapan dengan banyak perusahaan yang mempunyai sekian banyak ragam lini bisnis. Sistem klasifikasi industri yang telah dikenal dan digunakan secara luas adalah sistem Standard Industrial Classification (SIC) yang didasarkan pada data sensus dan pengklasifikasian perusahaan berdasarkan produk dasar yang dihasilkan. Standar yang dipakai untuk mengkelompokkan industri bagi perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah Jakarta Stock Exchange Sectoral Industry Classfification (JASICA).  Klasifikasi JASICA ini terdiri dari 9 divisi, dan masing-masing divisi tersebut dibagi lagi menjadi kelompok industri utama dan diberi kode dua digit.


Tabel Klasifikasi Industri Di Indonesia


Saham Bumn Dan Swasta, Saham-saham tercatat di BEI juga sering dibedakan antara saham-saham perusahaan swasta dan perusahaan BUMN. Persentase nilai kapitalisasi saham BUMN terhadap seluruh saham tercatat BEI, per 17 Juli 2009:

2.3.2  Pentingnya Analisis Industri

Analisis industri merupakan tahap penting yang perlu dilakukan investor baik untuk meminimalkan risiko maupun untuk mengidentifikasi industri yang mempunyai prospek yang menguntungkan.

Analisis industri perlu diikuti analisis perusahaan agar investor dapat menentukan saham perusahaan mana saja dalam suatu kelompok industri yang mempunyai kombinasi return-risiko yang terbaik.

Beberapa penelitian yang terkait dengan analisis industri menghasilkan kesimpulan:

1.      Industri yang berbeda mempunyai tingkat return yang berbeda pula.

2.      Tingkat return masing-masing industri berbeda di setiap tahunnya.

3.      Tingkat return perusahaan-perusahaan di suatu industri yang sama, terlihat cukup beragam.

4.      Tingkat risiko berbagai industri juga beragam.

5.      Tingkat risiko suatu industri relatif stabil sepanjang waktu.


2.3.3 Estimasi Tingkat Keuntungan Industri

Untuk menilai suatu industri, ada dua langkah yang perlu dilakukan: Mengestimasi earning per share (EPS) yang diharapkan dari suatu industri. Mengestimasi price earning ratio (P/E) yang diharapkan atau disebut juga sebagai expected earning multiplier industri. Jika hasil kedua estimasi tersebut dikalikan, maka akan kita peroleh nilai akhir yang diharapkan dari suatu industri (expected ending value of industry). Tingkat return yang diharapkan dari suatu industri ditentukan dengan membagi nilai akhir yang diharapkan dari suatu industri ditambah dividen yang diharapkan dari industri, dengan nilai awal industri tersebut pada periode sebelumnya. Selanjutnya, dengan membandingkan tingkat return harapan dari industri terhadap tingkat return yang disyaratkan oleh investor, investor akan dapat menentukan industri mana saja yang layak dijadikan pilihan investasinya.


2.3.4 Estimasi Earning Per Share Industri

Ada tiga teknik yang dapat digunakan untuk mengestimasikan tingkat penjualan suatu industri: Daur hidup industri (industry life cycle), Analisis input-output, Hubungan antara industri dengan ekonomi secara keseluruhan. Ketiga teknik saling melengkapi sehingga investor dapat mengkombinasikan ketiga teknik tersebut untuk mendapatkan gambaran lengkap mengenai posisi dan prospek industri dalam berbagai skenario.


Perkiraan penjualan dan daur hidup industry. Tahap perkembangan industry dapat digunakan unutk mengestimasi besarnya biaya penjualan dari suatu industry. Tahap perkembangan industry umumnya dibagi menjadi lima, yaitu : tahap permulaan, pertumbuhan yang cepat, tahap kedewasaan,(mature) stabil, dan penurunan.


    Tahap permulaan (introduction).

Tahap permulaan merupakan masa-masa awal perkembangan sebuah industri. Pada tahap ini, pertumbuhan penjualan sangat kecil dan profit yang dihasilkan kemungkinan akan menunjukkan angka negatif karena perusahaan harus mengeluarkan dana yang cukup besar untuk menutupi biaya promosi dan pengembangan produk di awal-awal pertumbuhan industri.

    Tahap pertumbuhan (growth).

Pada tahap pertumbuhan, penjualan tumbuh sangat cepat.Permintaan semakin meningkat sedangkan persaingan belum begitu ketat sehingga profit pada tahap pertumbuhan akan tumbuh tinggi. Pertumbuhan industri pada tahap ini akan cenderung lebih besar dari pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

    Tahap kedewasaan (mature).

Pada tahap ini, pertumbuhan penjualan mulai menurun, karena banyaknya pesaing yang mulai masuk dan permintaan yang sudah relatif stabil. Oleh karena itu, profit pada tahap mature akan mengalami pertumbuhan yang mulai menurun dan menuju tingkat keuntungan yang normal. Pertumbuhan industri pada tahap ini sedikit lebih besar dari pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

    Tahap stabil.

Tahap stabil mungkin merupakan tahap yang paling panjang dalam daur hidup industri. Pertumbuhan industri akan cenderung sama dengan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan atau segmen ekonomi di mana industri tersebut berada. Meskipun penjualan terkait erat dengan kondisi ekonomi, tetapi besarnya pertumbuhan penjualan masing-masing perusahaan secara individual dalam suatu industri akan berbeda-beda satu dengan yang lain, tergantung dari kemampuan manajerial dari masing-masing perusahaan

    Tahap penurunan.

Pada tahap penurunan, tingkat penjualan dan profit industri semakin menurun. Pada tahap ini ada perusahaan yang mulai keluar dari industri dan investor pun mulai berpikir untuk mencari alternatif industri lain yang lebih menguntungkan. Pertumbuhan industri pada tahap ini akan jauh di bawah pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.


Perkiraan Penjualan Dan Analisis Input-Output, Analisis input-output adalah suatu cara alternatif untuk mengetahui gambaran prospek penjualan suatu industri di masa yang akan datang dengan cara mengidentifikasi pemasok (supplier) dan konsumen dari suatu industri. Dengan melakukan analisis tersebut, kita dapat mengestimasi permintaan konsumen di masa datang, serta kemampuan pemasok untuk menyediakan barang dan jasa yang diperlukan dalam suatu industri. Informasi tersebut nantinya dapat digunakan untuk memperkirakan tingkat penjualan dan keuntungan suatu industri di masa depan.

Perkiraan Penjualan dan Hubungan Industri Dan Ekonomi, Teknik analisis ini membandingkan tingkat penjualan industri dengan kondisi perekonomian secara keseluruhan yang berhubungan dengan barang dan jasa yang diproduksi oleh ndustri tersebut. Teknik ini didasari oleh asumsi bahwa kondisi perekonomian di mana suatu industri beroperasi akan terkait dengan penjualan dan keuntungan suatu industri.

2.3.5 Persaingan Dan Return Industri Yang Diharapkan

Faktor penting lain yang mempengaruhi besarnya profit yang bisa diperoleh suatu industri adalah intensitas persaingan dalam industri tersebut. Intensitas persaingan dalam suatu industri akan menentukan kemampuan industri untuk tetap memperoleh tingkat return di atas rata-rata.

Lima faktor yang menentukan intensitas persaingan dalam suatu industri tersebut adalah:

    ancaman adanya pemain baru,
    daya tawar (bargaining power)  pembeli,
    persaingan diantara pemain yang ada,
    ancaman adanya barang atau jasa substitusi,
    daya tawar (bargaining power)  pemasok.

Lima kekuatan persaingan akan menentukan profitabilitas industri karena lima faktor tersebut mempunyai pengaruh terhadap komponen return on investment (ROI) dalam suatu industri.

Persaingan antara perusahaan yang ada dalam industri. Persaingan dalam suatu industri akan semakin meningkat jika terdapat banyak perusahaan yang ukurannya relatif sama bersaing dalam industri tersebut. Persaingan juga akan dipengaruhi oleh pertumbuhan industri dan biaya tetap, serta hambatan untuk keluar dari industri. Tingginya biaya tetap akan mendorong peningkatan persaingan karena dengan tingginya biaya tetap akan mengharuskan perusahaan untuk memproduksi dengan kapasitas penuh. Hal itu akan membuat penawaran di pasar akan semakin meningkat yang kemudian akan menyebabkan harga barang semakin menurun, sehingga  persaingan akan semakin ketat.

Ancaman pemain baru. Meskipun sebuah industri mempunyai jumlah pesaing yang sedikit, investor juga perlu mengidentifikasi perusahaan-perusahaan yang potensial menjadi pemain baru dalam industri. Besarnya ancaman pemain baru ini akan dipengaruhi oleh adanya hambatan-hambatan masuk (barriers to entry) dalam suatu industri, seperti tingginya biaya investasi, peraturan pemerintah, dan harga barang yang relatif kecil dibandingkan dengan biaya produksi. Jika hambatan masuk suatu industri relatif tinggi maka kemungkinan adanya pemain baru yang masuk dalam industri tersebut akan semakin kecil.

Ancaman adanya produk substitusi. Produk substitusi akan membatasi profit potensial suatu industri karena barang subtitusi akan memunculkan alternatif bagi produk perusahaan. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan perusahaan untuk menentukan harga produk akan semakin berkurang, karena dibatasi adanya produk substitusi. Artinya, jika harga produk perusahaan terlalu tinggi, konsumen bisa saja berpindah ke produk substitusi yang ditawarkan di pasar.

Bargaining power pembeli. Daya tawar pembeli di pasar yang kuat bisa mempengaruhi profitabilitas industri. Hal ini terjadi jika konsumen dapat menawar harga atau meminta kualitas yang lebih tinggi dengan kemungkinan pilihan dari produk yang diberikan oleh pesaing lain. Bila jumlah konsumen lebih banyak dari jumlah industrinya maka bargaining power konsumen akan rendah.  Sebaliknya jika jumlah industri lebih banyak dari konsumen maka bargaining power konsumen akan besar

Bargaining power pemasok.Pemasok dapat mempengaruhi return industri di masa yang datang karena mereka mempunyai kekuatan untuk menentukan harga dan kualitas dari produknya. Jika jumlah pemasok lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah industrinya, maka pemasok memiliki bargaining power yang besar. Begitu juga sebaliknya, jika pemasok lebih banyak dari industrinya maka bargaining power pemasok akan berkurang.

2.3.6 Estimasi Earning Multiplier Industri

Teknik untuk melakukan estimasiearning multiplier industri ada dua: Analisis Makro.  Investor mempelajari hubungan antara earning multiplier industri dengan earning multiplier pasar.  Analisis Mikro. Estimasi earning multiplier industri dilakukan dengan cara mengamati variabel-variabel yang mempengaruhi earning multiplier industri, seperti dividend-payout ratio (DPR), tingkat return yang disyaratkan dalam industri (k), dan tingkat pertumbuhan earningdan dividen industri yang diharapkan (g).

Analisis makro mengasumsikan adanya hubungan antara perubahan dalam k dan g untuk industri tertentu dengan pasar keseluruhan. Asumsi ini sama halnya dengan hubungan antara perubahan dalam P/E rasio industri dan P/E pasar secara keseluruhan.  Hubungan antara industri dan pasar tidak sama untuk setiap industri, bahkan untuk industri tertentu hubungan tidak signifikan. Oleh karena itu, sebelum menggunakan analisis makro untuk mengestimasi earning multiplier untuk industri, kita perlu mengevaluasi terlebih dahulu kualitas hubungan antara rasio P/E industri yang akan dianalisis dengan P/E pasar.

Estimasi earning multiplier industri dengan analisis mikro dilakukan dengan cara mengestimasi tiga variabel yang menentukan earning multiplier industri (dividend-payout ratio, tingkat return yang disyaratkan dan tingkat pertumbuhan earning dan dividen yang diharapkan) dan membandingkan ketiga variabel tersebut dengan P/E pasar. Dari hasil analisis tersebut, selanjutnya dapat diketahui apakah earning multiplier industri akan berada di atas, di bawah, ataupun sama dengan earning multiplier pasar.

2.4  ANALISIS PERUSAHAAN

Analysis perusahan memperkenalkan analisis sekuritas berdasarkan analisis fundamental. Analisis perusahaan merupakan tahap ketiga dari analisis fundamental, setelah analisis variabel ekonomi dan pasar, serta analisis industri. Analisis perusahaan terkait dengan pertanyaan-pertanyaaan: Saham-saham perusahaan manakah dalam industri terpilih yang paling menguntungkan bagi investor? Atau, saham-saham manakah yang undervalued, sehingga layak dibeli, dan saham-saham manakah yang overvalued, sehingga menguntungkan untuk dijual? Analisis perusahaan diarahkan untuk mengetahui apakah saham suatu perusahaan layak dijadikan pilihan investasi. Hasil analisis perusahaan harus bisa memberikan gambaran tentang nilai perusahaan, karakteristik internal, kualitas dan kinerja manajemen, serta prospek perusahaan di masa datang.

Dua komponen (earning per share, EPS dan price earning ratio, P/E) diutamakan dalam analisisperusahaan karena tigaalasan:

1.      Kedua komponen tersebut bisa dipakai untuk mengestimasi nilai intrinsik saham.

2.      Dividen yang dibayarkan perusahaan pada dasarnya dibayarkan dari earning.

3.      Adanya hubungan antara perubahan earning dengan perubahan harga saham.




2.4.1        Eps Dan Informasi Laporan Keuangan

Earning per share(EPS) diperoleh dengan  menghitung perbandingan antara jumlah earning (dalam hal ini laba bersih yang siap dibagikan bagi pemegang saham) dengan jumlah lembar saham perusahaan. Bagi para investor, informasi EPS merupakan informasi yang dianggap paling mendasar dan berguna, karena bisa menggambarkan prospek earning perusahaan di masa depan.  Informasi (termasuk EPS) yang dapat digunakan sebagai dasar penilaian perusahaan adalah laporan keuangan perusahaan. Laporan keuangan merupakan informasi akuntansi yang menggambarkan seberapa besar kekayaan perusahaan, seberapa besar penghasilan yang diperoleh perusahaan serta transaksi-transaksi ekonomi apa saja yang telah dilakukan perusahaan yang bisa mempengaruhi kekayaan dan penghasilan perusahaan. Berdasarkan informasi yang dikandungnya, ada tiga laporan utama dalam laporan keuangan, yaitu:

1.      Neraca.

2.      Laporan Rugi Laba.

3.      Laporan Aliran Kas.


Neraca

Neraca adalah laporan keuangan yang menggambarkan kondisi finansial perusahaan pada suatu waktu tertentu. Neraca memberikan gambaran aktiva, kewajiban, dan ekuitas perusahaan hanya pada saat laporan tersebut disusun.  Penyusunan pos-pos yang terdapat dalam neraca disusun berdasarkan urutan likuiditas (untuk aktiva) dan jangka waktu jatuh temponya (untuk pasiva). Laporan posisi keuangan disebut juga sebagai neraca karena antara sisi aktiva dan sisi pasiva (kewajiban + ekuitas), masing-masing harus sama jumlahnya atau dalam posisi seimbang.


Laporan Laba Rugi

Laporan rugi laba (income statement) adalah ringkasan profitabilitas perusahaan selama periode waktu tertentu, misalnya satu tahun. Laporan rugi laba ini menunjukkan penghasilan (revenues) yang diperoleh selama satu periode, biaya (expenses) yang dikeluarkan dalam satu periode, dan elemen-elemen lain pembentuk laba.

Unsur biaya yang tercantum dalam laporan rugi laba:

    Biaya produksi, biaya ini berkaitan dengan biaya-biaya yang langsung terkait dengan aktivitas produksi barang-barang dan jasa yang akan dijual perusahaan.
    Biaya administrasi dan umum. Biaya ini terkait dengan biaya overhead, biaya gaji, pengiklanan, dan biaya lainya yang tidak terkait langsung dengan biaya produksi barang dan jasa.
    Biaya bunga. Biaya ini terkait dengan biaya yang harus dikeluarkan perusahaan sebaggai konsekuensi pengguanaan hutang.
    Buaya pajak penghasilan. Biaya ini berkaitan dengan kewajiban perusahaan unutk membayar sejumlah pajak kepada pemerintah.


Laporan Arus Kas

Laporan arus kas merupakan laporan yang memuat aliran kas yang berasal dari tiga sumber aktivitas: (1) operasi perusahaan, (2) investasi dan (3) aktivitas finansial yang dilakukan perusahaan.  Ada dua perbedaan antara laporan arus kas dengan laporan rugi laba dan neraca perusahaan:

1.      Neraca dan laporan rugi laba disusun atas dasar metode akrual akuntansi, sedangkan laporan arus kas hanya mencatat transaksi yang menyebabkan aliran kas secara nyata.

2.      Laporan rugi laba memasukkan pos depresiasi untuk “menghaluskan” pengeluaran modal yang terlalu besar dalam laporan rugi laba.


2.4.2 Kelemahan Pelaporan Eps Dalam Laporan Keuangan

Permasalahan dalam pelaporan earning ini terkait dengan kemungkinan munculnya konflik kepentingan antara investor di satu sisi sebagai pengguna laporan keuangan, dan manajemen di sisi lainnya sebagai penyaji laporan keuangan.

Cara mengurangi konflik ini, antara lain dengan:

1.      Peran prinsip-prinsip dan kode etik akuntansi

2.      penggunaan tenaga auditor eksternal yang netral.

Kelemahan laporan keuangan yang lainnya, adalah:  Karena laporan tersebut dibuat di akhir periode (pada umumnya tahunan), maka hal itu hanya menggambarkan kondisi perusahaan pada saat laporan dibuat, dan tidak mampu menggambarkan kondisi perusahaan yang terkini.



2.4.3 Analisis Rasio Profitabilitas Perusahaan

Di samping bisa dengan melihat laporan keuangan, analisis perusahaan juga dapat dilakukan dengan menggunakan analisis rasio keuangan. Indikator penting untuk melihat prospek perusahaan di masa datang adalah pertumbuhan profitabilitas perusahaan.

Dua rasio profitabilitas utama yang umumnya dipakai saat analisis ini adalah ROE dan ROA:

1.      Return on Equity (ROE): menggambarkan sejauhmana kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang bisa diperoleh pemegang saham.



   






2.    
Return on Asset (ROA): menggambarkan sejauhmana kemampuan aset-aset yang dimiliki perusahaan bisa menghasilkan laba.




  Perhitungan Roe Dan Roa

Contoh:Data laba bersih, EBIT, ekuitas, dan total aset PT Semen Gresik pada akhir Tahun 2006 dan 2007 seperti disajikan pada tabel berikut ini. Berapakah ROE dan ROA perusahaan tersebut untuk Tahun 2006 dan 2007?


Jawab: ROE dan ROA PT Semen Gresik untuk Tahun 2006 dan 2007, adalah:

           


   


   


       
       
       
   












2.4.4 Earning Per Share (Eps)

Informasi EPS suatu perusahaan menunjukkan besarnya laba bersih perusahaan yang siap dibagikan bagi semua pemegang saham perusahaan.

Rumus untuk menghitung EPS adalah sebagai berikut:





Kita juga bisa menghitung EPS perusahaan dengan menggunakan rumus berikut ini:


   


   


   



   



   


   









Contoh: Berdasarkan data PT Semen Gresik tahun 2006 dan 2007 sebelumnya, jika jumlah saham yang beredar di Tahun 2006 dan 2007 sama sebanyak 5,93 miliar, maka EPS dapat dihitung dengan:




      

EPS2006           =  Rp1.295,52 / 5,93

                        = Rp218

        EPS2007  =  1.775,41 / 5,93

                        = Rp299


EPS PT Semen Gresik tersebut juga dapat dihitung dengan:



   





    EPS2006      = (Rp1.295,52 / Rp5.499,61) x (Rp5.499,61 / 5,93)

                        = Rp218

    EPS2007      = (Rp1.775,41 / Rp6.627,26) x (Rp6.627,26 / 5,93)

                        = Rp299


2.4.5 Price Earning Ratio (Per)


Informasi PER (earning multiplier) mengindikasikan besarnya rupiah yang harus dibayarkan investor untuk memperoleh satu rupiah earning perusahaan.

Rumus untuk menghitung PER adalah sebagai berikut:



   





            dalam hal ini:

            D1/E1    = tingkat dividend payout ratio yang diharapkan

            k          = tingkat return yang disyaratkan

            g          = tingkat pertumbuhan dividen yang diharapkan


komponen per

1.      Dividend payout ratio (DPR) merupakan perbandingan antara dividen yang dibayarkan perusahaan terhadap earningyang diperoleh perusahaan.

2.      Tingkat return yang disyaratkan (k)diperoleh dengan menjumlahkan tingkat return bebas risiko (risk-free rate) dan premi risiko yang disyaratkan investor.

                        k=  RF + RP

                           =  tingkat return bebas risiko + premi risiko

3.      Tingkat pertumbuhan dividen yang diharapkan (g), merupakan fungsi dari besarnya ROE dan tingkat laba ditahan perusahaaan (retention rate).   

                         g = ROE X tingkat laba ditahan

                            =



2.4.6.      Estimasi Nilai Intrinsik Saham

Estimasi nilai intrinsik saham dalam analisis perusahaan bisa dilakukan dengan memanfaatkan dua komponen informasi penting dalam analisis perusahaan, yaitu EPS dan PER (earning multiplier).

Secara matematis, hubungan tersebut tergambar sebagai berikut:

               P0      = Estimasi EPS X PER

                        = E1 X PER

Jika nilai intrinsik saham sudah berhasil diestimasi, langkah selanjutnya adalah membandingkan nilai intrinsik saham dengan harga pasarnya.


2.4.7 Analisis Perusahaan Menggunakan Ringkasan Laporan Keuangan

Informasi secara lengkap laporan keuangan perusahaan diperoleh pada laporan tahunan yang dipublikasikan perusahaan.

Sumber-sumber lain umumnya menyajikan laporan keuangan perusahaan dengan format ringkasan, misalnya Indonesian Capital Market Directory (ICMD) yang dikeluarkan oleh Institute for Economics and Financial Research (ECFIN).

Contoh:

            Pada tahun 2002, PT Kedaung Indah Can Tbk mempunyai total aktiva sebesar Rp203 milyar dan total kewajiban sebesar Rp76 milyar. Berapakah ekuitas pemegang sahamnya?

Jawab:

 Mengikuti identitas akuntansi, ekuitas pemegang saham Kedaung Indah Can adalah Rp203 milyar – Rp76 milyar = Rp127 milyar.



Data Per Lembar Saham Dan Rasio Kinerja

1.      Earning per Share (EPS) = Laba setelah pajak / Lembar saham beredar

2.      atau EPS = ROE x BVPS

3.      Book Value per Share (BVPS) = Ekuitas pemegang saham / Lembar sahan beredar

4.      Dividend per Share (DPS) = Dividen / Lembar saham beredar

5.      Price Earning Ratio (PER atau P/E) = Harga saham / EPS

6.      Price to Book Value (PBV atau P/B) = Harga saham / BVPS

7.      Dividend Payout = DPS / EPS

8.      Dividend Yield = DPS / Harga saham

9.      Net Profit Margin = Laba setelah pajak / Pendapatan.

10.  Return on Investment/ Return on Asset (ROI atau ROA) = Laba setelah pajak / Total aktiva.

11.  Return on Equity (ROE) = Laba setelah pajak / Ekuitas pemegang saham.






BAB III

PENUTUP


3.1    Kesimpulan

Dengan mempertimbangkan resiko yang ada, diharapkan investor mendapat tingkat keuntungan yang cukup. Upaya untuk dapat memperoleh tingkat keuntungan yang menarik, investor dapat menginvestasikan dananya pada beberapa kelompok saham, dengan harapanjika investasi pada saham tertentutidak dapat memperoleh tingkat  keuntungan  seperti  yang  diharapkan,  investor  masih  mempunyai  harapan untuk mendapatkan tingkat keuntungan dari saham-saham yang lain. Cara-cara seperti ini dinamakan investasi dalam portofolio. Yang penting untuk dilakukan oleh investor dalam menentukan saham mana yang akan dimasukkan dalam portofolio memerlukan keahlian  dalam  memilih  saham-saham  yang  sekiranya  nanti  dapat  mendatangkan tingkat keuntungan yang optimal.

Ada dua cara yang dapat digunakan untuk menganalisis saham, yaitu dengan menggunakan analisis fundamental dan  analisis  teknikal.  Analisis  fundamental  digunakan  untuk  menganalisis saham berdasarkan kemampuan perusahaan, yang meliputi sistem manajemen organisasi, jenis usaha, dan situasi keuangan perusahaan. Analisis ini terutama menyangkut masalah kebijakan perusahaan. Alat analisis fundamental yang sering digunakan adalah dengan menghitung  PER (Price Earning Ratio), ROI (Return On Investment), ROE (Return On Equity), PBV (Price Book Value), dan EPS (Earning Per Share). Analisis fundamental dimaksudkan untuk menjawabapakah harga suatu saham itu murah atau mahal. Jika harga saham murah maka investor dapat mengambil keputusan untuk membeli saham tersebut. Berikut akan dibahas Analysis fundamental yang meliputi analysis Ekonomi, Industri, Perusahaan.

3.2    Saran

Agar Investor mendapatkan sekuritas yang baik untuk berinvestasi maka investor harus melakukan analiysis fundamental dengan baik pula sehingga dapat memperoleh nilai atau return sekuritas yang optimal. Dan dengan analysis fundamental investor mengambil keputusan dengan baik.


DAFTAR PUSTAKA


Tandelilin, E. (2010). PORTOFOLIO dan INVESTASI. Yogyakarta: KANISIUS.

Zvi Bodie, A. K. (2014). MANAJEMEN PORTOFOLIO DAN INVESTASI. Jakarta: Salemba

Empat.






Untuk Filenya silahkan >>>

JIka Sobat ingin mendapatkan semua makalah yang ada di website ini secara gratis siilahkan klik tombol Subscribe yang ada dibawah ini, dan Perlu diketahui Setelah Sobat Mendaftarkan Email Jangan Lupa Konfirmasi Link yang di Kirim Ke Email Agar Pemberitahuannya Aktif:

0 Response to "Makalah Teori Portofolio dan Analisis Investasi Analisis Fundamental Lengkap"

Post a Comment